Home » » Menebar Virus Literasi di Pelosok Desa

Menebar Virus Literasi di Pelosok Desa

Posted by LPM REDLINE on 18 Mar 2020

Sejumlah anggota Gerakan Mahasiswa Mattirobulu tampak membaca buku sebagai upaya menghidupkan giat literasi di pelosok desa 18 Maret 2020


Seiring dengan perkembangan zaman dimana revolusi industri 4.0 yang bangsa alami mengharuskan sebuah pradaban menjawab permasalahan-permasalahan yang sifatnya krusial, tentu tidak hanya permasalahan ekonomi, politik dan hukum. Akan tetapi permasalahan yang dimaksud ialah tingkat literasi yang begitu rendah di negeri ini menjadi titik permasalahan bangsa Indonesia. Data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) mengungkap bahwa Indonesia berada pada rangking kedua terbawah dalam literasi dunia, Indonesia menempati rangking 60 dari 61 negara di dunia dalam hal literasi dan membaca.
Tentu arus globalisasi saat ini tidak hanya menimbulkan permasalahan terkait dengan ketidakadilan ekonomi, politik maupun hukum. Akan tetapi negara dalam hal ini harus memperhatikan budaya literasi terutama yang ada di setiap pelosok desa terpencil negeri ini. Apabila negara dalam hal ini pemerintah tidak berusaha untuk memperbaiki serta mengembangkan sistem budaya literasi yang ada di wilayah dan pelosok desa, maka stabilitas nasional tidak akan optimal, sebab penguatan literasi di pelosok negeri terutama di pelosok desa pada dasarnya merupakan kunci untuk memajukan negeri ini.
Negara maju tidak selamanya dilihat dari aspek ekonomi maupun infrastrukturnya, akan tetapi dengan adanya fasilitas literasi seperti perpustakan yang memadai di setiap wilayah atau pelosok desa untuk melayani masyarakat dan berfungsi sebagai inklusi sosial. Oleh sebab itu gerakan literasi disetiap wilayah merupakan investasi yang harus ditanamkan bagi masyarakat luas terutama di pelosok desa agar berguna untuk masa depan bangsa.
Kata literasi jika selama ini dipahami sebagai kegiatan membaca buku tentu akan sedikit keliru, karena pada dasarnya arti literasi sendiri merujuk pada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam hal membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, hal inilah yang harus diperhatikan oleh pemerintah untuk seluruh pelosok wilayah di negeri ini.
Lalu apa yang terjadi jika literasi tidak ditumbuhkan disetiap pelosok negeri? tentu akan memandekkan pikiran masyarakat terutama di desa serta akan melahirkan kebodohan yang tak berujung karena rendahnya literasi menjadi faktor ketidaktahuan diberbagai ranah kehidupan dan produktivitas manusia yang rendah, karena tanpa dukungan literasi, maka informasi pengetahuan yang diserap akan rendah dan terbatas sehingga gagal untuk mengoptimalkan potensi yang ada pada masyarakat, pendidikan akan mengalami degradasi dan angka putus sekolah yang tinggi. Karena tanpa literasi kesadaran akan pentingnya pendidikan tidak dibangun dari dalam diri sendiri melainkan sebatas normatif, bahkan berbasis penganguran. Inilah yang terjadi jika literasi tidak ditumbuhkan di setiap pelosok negeri.
“Sultan Jaya Negoro” penulis buku "Gerak Katimbang Di Butta Turatea"  dan seorang pegiat literasi mengungkapakan bahwa di setiap pelosok desa ternyata animo masyarakat apalagi anak-anak dalam membaca dan memperoleh ilmu pengetahuan sangat tinggi, akan tetapi tidak adanya fasilitas yang memadai seperti perpustakaan yang menghambat masyarakat untuk memperoleh buku bermanfaat dan berkualitas.
Pemerintah harus melihat bahwa peningkatan sumber daya manusia disetiap pelosok negeri terutama di beberapa desa terpencil dinilai sangat penting karena sumber daya manusia yang memadai di pelosok negeri dapat merawat dan menjaga kearifan lokal (Local Wisdom).
Sekarang pemerintah harus menjadi pelopor untuk menabur virus literasi di setiap pelosok negeri ini, karena dengan adanya virus literasi ini diharapkan masyarakat memiliki rasa optimisme untuk berbuat demi kesejahtraan hidupnya. Budaya literasi adalah hak masyarakat yang harus direalisasikan oleh pemerintah. Jika tidak, maka negara maju yang direncanakan akan selamanya menjadi angan-angan semata.
Misalnya yang dilakukan oleh salah satu organisasi kedaerahan yaitu Gerakan Mahasiswa Mattirobulu (GEMAR) untuk menumbuhkan budaya literasi dalam daerah, para mahasiswa melakukan  kegiatan karantina baca disalah satu kantor desa di kecamatan Mattirobulu, karantina itu guna mengembangankan sumber daya anggota dan masyarakat yang dimiliki setiap daerah, karena dalam kegiatan yang dilakukan di karantina baca, teman-teman mahasiswa membuat metode memahami bacaan dan metode Public Speaking, dimulai dari memahami orientasi buku yang dibaca, konflik yang berlangsung dalam bacaan, resolusi dari masalah dalam cerita dan terakhir mahasiswa atau masyarakat dituntut untuk memeberikan kesimpulan dari buku yang telah dibaca, setelah itu mempresentasekan hasil bacaan untuk melatih diri sebagai pembicara.
Walaupun karantina itu berlangsung hanya dalam dua hari, akan tetapi mampu memberikan sumbangsih pemikiran terhadap masyarakat desa bahwa ternyata budaya literasi itu sangatlah penting untuk meningkatkan sumber daya manusia di pelosok negeri ini.
Pembicaran dalam ruangan berskala tidak terlalu besar itu, mahasiswa dan masyarakat menyingung aturan pemerintah yang mengatur tentang literasi di setiap desa atau kelurahan marujuk pada peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2017 tentang standar nasional perpustakan desa atau kelurahan, hal ini lah yang akan menjadi pekerjaan rumah bagi Gerakan Mahasiswa Mattirobulu  kedepannya untuk menekan pemerintah setempat agar dapat menjalankan aturan sebagaimana yang dijelaskan dalam PERPUNAS untuk membangun perpustakaan disetiap desa atau kelurahan.


Penulis : Bolang (Anggota Gerakan Mahasiswa Mattirobulu)

SHARE :
CB Blogger

Post a Comment

 
Copyright © 2015 LPM REDLINE. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating LPM RED LINE