![]() |
| Kotak kosong Pemira 202 |
Kampus, Red Line News -- Panitia Pemilihan Raya (PEMIRA) menetapkan mekanisme kotak kosong dengan skema 60/40 sebagai acuan kelolosan kandidat pada Pemira mendatang. Kebijakan ini memunculkan respons dari sejumlah Organisasi Mahasiswa (ORMAWA) yang menilai keberadaan kandidat tunggal dan kotak kosong menjadi refleksi kondisi partisipasi demokrasi di lingkungan kampus, Rabu (19/26).
Muh. Parham selaku Ketua Panitia (KPUM) Institut Agama Islam Negeri Parepare (IAIN) Parepare, menjelaskan mekanisme kotak kosong yang akan diterapkan pada PEMIRA mendatang. "Mengenai mekanisme yang sudah kami rancang bersama dengan partai, hasil rapat yaitu 60/40. Contoh kisaran ada 1000 mahasiswa yang memilih, lalu setelah itu hanya kisaran 200 yang memilih kandidat dan 800 mahasiswa memilih kotak kosong, nah otomatis kandidat itu sudah tidak bisa berpartisipasi lagi di pemira 2026. Tetapi, ketika kisaran ada kemungkinan 400 mahasiswa memilih kandidat dan ada kisaran 600 mahasiswa memilih kotak kosong, tetap diberikan tolelir untuk kandidat yang sudah mendaftar dari awal untuk tetap berpartisipasi," jelasnya.
Di sisi lain, pihak Dewan Eksekutif Mahasiswa Institut (DEMA-I) IAIN Parepare, Hafiz mengungkapkan pada sisi demokrasi, menurut Hafiz adanya kotak kosong membuat pemilihan kompetitif menjadi minim. " Tentunya perihal ini bisa di katakan hilangnya marwah demokrasi, karena adanya kotak kosong ini menjadikan minimnya pilihan kompetitif sehingga mahasiswa menjadi enggan untuk memberikan suara dan memilih kotak kosong. Padahal Pemira ini di anggap menjadi tolak ukur dan penerapan yang nyata dalam proses pelaksanaan demokrasi, salah satunya menggunakan hak pilih untuk memilih calon pemimpin," ungkapnya.
Hafiz juga berharap agar Pemira tahun ini dan kedepannya bisa berjalan secara demokrasi. "Harapan saya dalam pemira tahun ini hingga seterus nya tetap berjalan secara demokrasi. Karena, tahapan ini menjadi salah satu proses pembelajaran kita, baik selaku penyelenggara hingga sebagai partisipan dalam proses Pemira," harapnya.
Sementara itu, Ketua Umum Aliansi Mahasiswa (ANIMASI) Fauzan Syah, mengungkapkan pandangannya terkait adanya kandidat tunggal yang melawan kotak kosong. "Menurut saya, dengan adanya kandidat tunggal yang melawan kotak kosong sudah menjadi hal yang wajar, tapi kita tidak bisa memberi pandangan satu arah terkait ini. Dari sisi positif, kotak kosong adalah simbol demokratis, artinya mahasiswa masih punya opsi untuk menolak kandidat jikalau merasa tidak representatif," tuturnya.
Reporter: DMA, AHT, MAN
Redaktur: SRN
Web & It: Dayat
.jpg)
