Notification

×

Iklan

Iklan

Kuliah atau Sekadar Absen? Kelas yang Terlalu Sepi untuk Disebut Belajar

Apr 24, 2026 | 10:24:00 PM WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-24T14:27:49Z



Penulis



Nama : Andi Gustira

Program Studi : Pendidikan agama islam


Opini -- Ruang kuliah tidak pernah benar-benar sepi. Yang perlahan menghilang justru makna belajar di dalamnya. Pemandangan di kelas hampir tidak pernah berubah, monoton, lalu menjadi membosankan. Mahasiswa datang tepat waktu, duduk rapi, membuka buku, dan menunduk mencatat. Dari luar, semuanya tampak ideal dan tertib, tanpa keributan. Namun justru di situlah persoalannya. Kelas terlihat tertib, tetapi terasa kosong. Kita terlalu lama keliru, diam dianggap sebagai tanda belajar, padahal sering kali itu tanda bahwa tidak banyak yang benar-benar terjadi.



Di banyak kelas, pembelajaran masih berjalan satu arah, dosen berbicara panjang, mahasiswa mendengar dan mencatat tanpa benar-benar terlibat. Interaksi minim, diskusi jarang muncul, kelas sunyi bukan karena fokus, tetapi karena ruang berpikir tidak dibuka.



Bahkan suara kipas lebih terdengar daripada suara mahasiswa, sesekali kursi bergeser, lalu kembali hening, ruang hadir secara fisik, tetapi tidak hidup sebagai tempat belajar, sebagian mahasiswa melihat jam, sebagian lain menatap layar tanpa benar-benar membaca ada yang menggulir ponsel diam-diam, ada pula yang terus mencatat tanpa mengangkat kepala. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak diberi ruang untuk terlibat. Yang terjadi bukan pertukaran gagasan, melainkan pemindahan informasi, yang hilang bukan materi, melainkan keberanian untuk berpikir. Kelas berakhir tanpa pertanyaan, tanpa diskusi, tanpa perdebatan, buku ditutup, tas dirapikan, lalu semua pergi. Kita hadir secara fisik, tetapi tidak sepenuhnya ada.


 Dalam kondisi seperti ini, mahasiswa terbiasa diam bukan karena tidak memiliki pikiran, tetapi karena tidak terbiasa menggunakannya mereka menunggu penjelasan, bukan mengajukan pertanyaan mereka mencatat, tetapi tidak mengolah, yang lebih ironis, sistem sering kali memperkuat keadaan ini yang diuji bukan kedalaman pemahaman, melainkan kemampuan mengingat. Mahasiswa yang mampu mengulang materi dianggap berhasil, sementara yang mencoba berpikir di luar jarang mendapat ruang. Akhirnya, belajar direduksi menjadi aktivitas menghafal. 



Pengetahuan seharusnya dibangun, bukan dipindahkan, tanpa dialog, belajar menjadi dangkal seperti dikritik Paulo Freire dalam banking education, mahasiswa hanya menjadi penyimpan informasi bukan pengolah gagasan. Data menunjukkan arah yang sama, Programme for International Student Assessment (PISA) 2018 mencatat sekitar 70% siswa Indonesia belum mencapai kompetensi minimum membaca. Sementara itu, survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menemukan satu dari tiga remaja mengalami masalah kesehatan mental, salah satunya dipicu tekanan akademik yang tidak diimbangi ruang belajar partisipatif. Padahal, belajar tidak pernah sekadar menerima. Pengetahuan dibangun melalui pertanyaan, diskusi, dan perdebatan, tanpa itu, pemahaman hanya tampak ada, tetapi rapuh. Interaksi bukan pelengkap, melainkan inti pembelajaran. Tanpa dialog, tidak ada ruang untuk menguji gagasan, meragukan, atau memperdalam. Tanpa itu, belajar kehilangan makna paling dasarnya.



Jika kondisi ini terus dibiarkan, kampus mungkin tidak akan kekurangan lulusan. Tetapi bisa jadi, kampus akan kekurangan pemikir. Dampaknya pelan, tetapi nyata. Banyak mahasiswa mampu menjawab soal ujian, tetapi kesulitan mengaitkan pengetahuan dengan realitas. Mereka lancar menjelaskan teori, tetapi ragu saat harus berpendapat. Terbiasa mencari jawaban benar, tetapi tidak siap menghadapi pertanyaan terbuka. Saya pernah duduk di situasi itu. Satu halaman penuh catatan, tetapi beberapa jam kemudian tidak benar-benar memahami satu pun isinya. Lalu pertanyaannya sederhana, kita sedang membentuk manusia yang berpikir, atau sekadar melatih ingatan, yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini sering dianggap wajar. Kelas yang sunyi dipandang sebagai tanda ketertiban, sementara mahasiswa yang diam dianggap serius. Padahal, kelas yang terlalu sunyi tidak selalu menunjukkan keberhasilan.


 Ia bisa menjadi tanda bahwa tidak ada yang benar-benar dipertaruhkan di dalamnya. Belajar yang hidup mengandung ketegangan intelektual. Ada perbedaan pendapat, ada pertanyaan yang belum terjawab, dan ada proses berpikir yang tidak selalu nyaman. Justru di situlah pertumbuhan terjadi. Tanpa itu, ruang kelas hanya menjadi tempat lewatnya informasi, bukan tempat lahirnya pemahaman. Perubahan tidak harus selalu besar. Satu pertanyaan bisa menghidupkan kelas. Satu tanggapan bisa membuka diskusi. Satu keberanian berbicara bisa memicu keberanian yang lain. Namun semua itu tidak akan terjadi jika semua pihak memilih diam. 


Dosen perlu membuka ruang dialog, bukan sekadar menyampaikan materi. Mengajar bukan hanya menjelaskan, tetapi mengajak berpikir. Mahasiswa pun perlu keluar dari kebiasaan pasif. Belajar bukan hanya menerima, tetapi juga mempertanyakan. Jika kedua pihak tetap bertahan pada peran lama, yang satu berbicara dan yang lain diam, maka ruang kelas akan terus berjalan tanpa kehidupan. Jika itu tidak terjadi, kita perlu jujur. Masalahnya bukan kita tidak belajar. kita terlalu lama terbiasa menjalani sesuatu yang tampak seperti belajar, tanpa benar-benar melakukannya. Dan mungkin, tanpa kita sadari,kita tidak benar-benar kuliah. Kita hanya absen.


Opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penulis secara pribadi. LPM Red Line tidak bertanggung jawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan.



TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update