![]() |
| Narasumber Nonton Bareng Film Dokumenter Pesta Babi |
Kampus, Red Line News -- Pasere Kolektif Indonesia bersama Lontara Hijau, Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (FAPETRIK) Universitas Muhammadiyah (UMPAR), Jurnalistik Islam (JI) serta Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare, menggelar nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi sebagai ruang pembahasan isu kemanusiaan dan kondisi sosial masyarakat Papua. Kegiatan tersebut terbuka untuk umum dan berlangsung di Pelataran FAPETRIK UMPAR, Rabu (20/05).
Jimmy selaku narasumber dalam pemutaran film Pesta Babi mengungkapkan situasi yang dialami masyarakat Papua. Menurutnya, persoalan di Papua tidak hanya berkaitan dengan pembangunan, tetapi juga menyangkut pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan diskriminasi. "Situasi Papua tidak hanya soal pembangunan, tetapi juga menyangkut pelanggaran HAM dan diskriminasi. Di balik itu, masyarakat Papua menuntut keadilan serta pengakuan atas hak politik mereka,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa pandangan negara terhadap masyarakat Papua dinilai masih paradoks. “Pandangan negara yang menganggap masyarakat Papua primitif atau menolak pembangunan dinilai paradoks. Bagi masyarakat Papua, hutan bukan simbol keterbelakangan, melainkan sumber utama kehidupan dan penopang ekonomi sehari-hari,” tambahnya.
Reza, salah satu mahasiswa FAPETRIK UMPAR, mengaku tertarik mengikuti pemutaran film tersebut karena ingin memahami lebih jauh persoalan yang terjadi di Papua. “Saya tertarik dengan isu Papua karena hingga saat ini masyarakat di sana masih menghadapi masalah kesejahteraan, diskriminasi, dan penguasaan sumber daya yang belum berpihak kepada mereka,” tuturnya.
Senada dengan itu, ia menekankan pentingnya kepedulian sosial dan rasa nasionalisme terhadap persoalan di dalam negeri. "Film tersebut mengajarkan pentingnya kepedulian dan nasionalisme agar kita tidak apatis terhadap persoalan di negara sendiri, khususnya di Papua. Film ini juga menjadi bentuk edukasi bagi masyarakat agar lebih memahami kondisi dan masalah kesejahteraan yang hingga kini belum terselesaikan,” tambah Reza.
Sementara itu, Tifani Putra Noris, salah satu mahasiswa Program Studi Jurnalistik Islam (JI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare, menjelaskan bahwa film dokumenter bukanlah alat propaganda, melainkan media untuk membuka ruang diskusi publik. “Isu sensitif sering dijauhkan dari ruang publik. Padahal, film bukan alat propaganda, melainkan ruang untuk melihat kenyataan yang jarang dibicarakan. Jika diskusi terus dihindari, masyarakat hanya akan menerima narasi yang sama,” tutupnya.
Reporter: FIA, RLA, SYD
Redaktur: SRN
Web & IT: Marsha
.jpg)
