![]() |
| Dokumentasi Proses Wawancara |
Kampus, Red Line News –– Beberapa mahasiswa mengeluhkan kebijakan penutupan gerbang Fakultas Tarbiyah (Faktar) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare yang dinilai terlalu cepat. Kebijakan tersebut dianggap menyulitkan mahasiswa, terutama mahasiswa yang tinggal di kos sekitar kampus, Minggu (28/06).
Salah seorang mahasiswa dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI) Rian, mengungkapkan bahwa penutupan portal menyulitkan mahasiswa, terutama yang tinggal di sekitar gerbang. “Bagi saya, penutupan portal sangat menyulitkan mahasiswa, apalagi sebagian dari kami tinggal di sekitar gerbang tersebut. Setiap hari saya harus mengalaminya. Sebelum gerbang ditutup, saya bahkan sering menitipkan motor di pos satpam agar ketika ingin kembali ke kampus saya tidak perlu memutar jauh,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang mahasiswi Prodi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Wilda Fauziah, menilai kebijakan penutupan gerbang memiliki tujuan yang baik. Namun, menurutnya, penutupan gerbang yang dilakukan terlalu awal menyulitkan mahasiswa yang masih memiliki kegiatan organisasi pada malam hari. "Sebenarnya kebijakan menutup gerbang itu niatnya bagus. Namun, jika ditutup terlalu awal, mahasiswa yang masih memiliki kegiatan organisasi pada malam hari menjadi kesulitan untuk masuk atau pulang ke kos,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa ketika gerbang kampus ditutup lebih awal itu akan membuatnya harus melewati jalan yang lebih jauh dan gelap. “Biasanya saya memilih melewati gerbang Tarbiyah karena lebih dekat. Kalau gerbang ditutup lebih awal, saya harus mengambil jalan yang lebih jauh, gelap, dan menurut saya cukup membahayakan, terutama bagi perempuan," tambah Wilda Fauziah.
Menanggapi keluhan mahasiswa, salah seorang petugas Satuan Pengaman (Satpam) kampus, Sakaria, menjelaskan bahwa penutupan gerbang merupakan aturan yang telah ditetapkan oleh pihak kampus. “Aturan dari kampus sebenarnya setelah Maghrib gerbang sudah ditutup. Namun, kami dari pihak security masih memberikan toleransi dengan membuka akses hingga pukul 00.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA),” jelasnya.
Ia juga mengatakan bahwa mahasiswa tetap dapat melewati gerbang selama memiliki keperluan yang jelas dan melapor kepada petugas. “Selama mahasiswa datang melapor dan meminta dengan baik, kami akan membukakan gerbang. Bahkan jika mahasiswa pulang ke kos sekitar pukul satu dini hari setelah kegiatan kampus, biasanya tetap kami berikan akses. Yang tidak kami izinkan adalah orang yang keluar masuk tanpa alasan yang jelas," tutupnya.
Reporter : SCI/DMA/MTA
Redaktur : NBP
Web&It : Dayat
.jpg)
