Home » » Opini : Sampai Kapan ini Berakhir

Opini : Sampai Kapan ini Berakhir

Posted by LPM REDLINE on 3 May 2020

Penulis : Rasdiyanah Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah IAIN Parepare
03 Mei 2020.

Penulis : Rasdiyanah

Opini--Waktu terus bergulir keadaan makin terhimpit, dompet makin menipis, kesengsaraan makin menjadi. Sedih, pilu,  sakit, stress pun menjadi bumbu dalam kesehariaan. Namun korona belum kunjung usai dan keadaan semakin menjerit .

Tulisan ini tidak membahas tentang korona, namun tentang potret yg nampak akhir- akhir ini yaitu anak-anak semakin banyak saja berkeliaran di pasar yang datang bukan untuk berbelanja namun untuk mengais sesuap makan untuk diri dan keluarganya.

Sungguh miris melihat pemandangan itu,  anak-anak menjual jasanya ke orang-orang yang datang berbelanja dengan menawarkan untuk mengangkatkan barang belanjaan tersebut. Terkadang mereka sebenarnya tidak sanggup untuk mengangkatnya namun bibir itu pun kaku untuk menyampaikan walau hanya untuk sejenak singgah beristirahat dan orang-orang itu tetap asik kesana kemari tanpa melirik sejenak kebelakang. Hati ini pun merasa sakit melihatnya. Pengorbanan yang begitu besar hanya untuk 5000 Rupiah.

Ada pepatah yang mengatakan ada pahit ada manis. Yaa, itu benar namun mungkin itu berbeda dengan hidup mereka. Rasa manis itu surut setiap harinya dan entah kapan berakhir.

Entah bagaiman cara menjelaskan kepada orang-orang tersebut untuk bisa memiliki hati. Saya tidak ingin menyalahkan mereka karna mereka orang baik yang membantu anak itu tetap berusaha namun saya hanya ingin mengatakan terima kasih telah membantu tapi jangan memanfaatkan.

Simpanlah kebaikan anda sebagian penonolong nantinya.  Jangan menjadikan diri anda lupa diri dan tamak. Dengan berlindung dibalik perkataan "mereka yang menawarkan dan mereka mau". Tapi tolong perlakukan mereka sewajar dan selayaknya manusia.

Sebenarnya mereka tidak semestinya mengalami itu karena negara melindungi mereka sesuai dengan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG
PERLINDUNGAN ANAK PASAL 53 AYAT (1) "Pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari keluarga kurang mampu, anak terlantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah terpencil".

Namun apalah daya "Perisai mereka malah berbalik dan lupa arah namun tidak lupa bersenang senang. Negeriku yang Aneh". Tapi setidaknya akan ada hari pembalasan.

Agama hadir untuk mengajarkan kita untuk memanusiakan orang lain dan berbagi rezeki tidak akan menghilangkan kebahagiaan kita, malah akan menambah rezeki kita serta membuat kita dicintai Allah sesuai dengan Firman Allah ;
Al-Baqarah (2) : 195. "Dan berinfaklah kamu (bersedekah atau nafakah) di jalan Allah dan janganlah kamu mencampakkan diri kamu ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah kerana sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik".

Al-Baqarah (2) : 245. Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

Dan Allah tidak tanggung- tanggung dalam melipat gandakannya sesuai dengan Firman Allah ; Al-Baqarah (2) : 261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Maka mari saling mengulurkan tangan.


Tulisan opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penulis secara pribadi.
LPM Red Line tidak bertanggung jawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan.

SHARE :
CB Blogger

Post a Comment

 
Copyright © 2015 LPM REDLINE. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating LPM RED LINE